“Segala puji bagi Allah atas nikmat kemerdekaan yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia.” Dengan penuh khidmat, beliau membuka amanat pada pagi yang penuh harapan tersebut. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan salah satu nikmat terbesar bagi sebuah bangsa. Menurutnya, kemerdekaan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan nilai-nilai agama, kehidupan sosial, dan budaya dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, penjajahan identik dengan penindasan, perampasan kebebasan, serta pengerukan kekayaan dari negeri yang dijajah. Dalam amanatnya, beliau juga mengajak seluruh peserta upacara untuk senantiasa mensyukuri jasa para pahlawan yang telah berjuang tanpa mengenal batas. Semangat perjuangan tersebut, kata dia, perlu dilanjutkan dalam kehidupan setelah kemerdekaan. Ada tiga hal yang ditekankan untuk meneruskan perjuangan para pahlawan. Pertama, memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan kecerdasan melalui pendidikan, karena ilmu pengetahuan menjadi salah satu jalan menuju kesejahteraan. Kedua, mengamalkan nilai-nilai kebajikan agama yang mengajarkan pentingnya persatuan, semangat perjuangan, dan keadilan. Ketiga, menjalankan perjuangan sesuai bidang masing-masing. Guru diharapkan menjalankan tugas mendidik dengan penuh semangat, sementara siswa didorong untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan meraih prestasi. Menutup amanatnya, beliau mengomandoi takbir yang kemudian menggema di seluruh area upacara. Suasana pun berubah menjadi penuh semangat dan sukacita. Pagi itu, di bawah langit Nurul Hakim, amanat tersebut turut merefleksikan nilai-nilai Islam yang berpadu dengan kecintaan terhadap tanah air. Nasionalisme dipandang bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai keagamaan, melainkan sebagai bagian yang dapat berjalan berdampingan. Semangat mencintai negeri menjadi jembatan yang mempererat persatuan, bukan pagar yang memisahkan.
